fbpx

Menjadi System Analyst. Antara harapan dan tantangan

Entah sudah berapa kali saya dipercaya untuk mengisi seminar di berbagai Universitas dan STMIK di Indonesia. Mulai dari Jakarta, Bodetabek, Karawang, Jogjakarta, Padang, dan dalam waktu dekat di Klaten. Pertanyaan yang selalu saya ajukan kepada mahasiswa di tempat itu adalah “Apa masa depan yang kalian harapkan dengan kuliah di tempat ini?”.  Umumnya STMIK dan Universitas IT jawabannya adalah Menjadi System Analyst. Hmm…

Saya sebagai orang yang ilmu IT-nya tumbuh dan besar dari internet, penasaran barang apaan sebetulnya  System Analyst itu. Sulitkah? Mudahkah? Menyenangkan atau bagaimana. Saya memang menyesal karena tidak besar dari kalangan akademisi, jadi sejujurnya kurang paham dengan hal-hal seperti ini. Jadi, sayapun bertekad untuk mempelajarinya di internet apa sebetulnya System Analyst.

Jika di googling, Ada begitu banyak referensi Job Description dari System Analyst. Sebut saya tautan ini, yang merupakan page one dari keyword System Analyst Job Description. Setelah saya mempelajari point-point job desc System Analyst, secara pribadi saya merasa bahwa poin-poin itu merupakan pekerjaan-pekerjaan yang saya lakukan sekarang di kantor. Sekedar informasi, saya saat ini bekerja di PT Agung Podomoro Land, Tbk di sebuah perusahaan property terbesar di Indonesia saat ini, bergabung di Sub Directorate HR Holding, dimana saya membangun aplikasi Human Resources Information System (HRIS) yang kini dipakai oleh ribuan karyawan Podomoro setiap harinya. Setelah aplikasi ini selesai dibangun tahun 2013, maka tahun  2014 hingga kini saya dibantu oleh 2 anak buah dan beberapa konsultan third-party untuk penambahan dan perbaikan fitur. Apakah saya kini System Analyst? Kalau mengacu ke poin-poin job description System Analyst di atas, saya bisa katakan iyah.

Saya tidak mengatakan bahwa saya orang yang sudah hebat di dunia System Analyst. Sesungguhnya saya juga masih belajar dan terus melatih diri untuk menjadi System Analyst, dan menjadi pemimpin yang baik bagi anak buah, dan juga Partner yang tangguh untuk semua konsultan third party, dan menjadi orang yang bisa dipercaya oleh atasan dan perusahaaan. Jadi dalam tulisan ini, saya hanya ingin berbagi pengalaman dari dunia IT yang sudah saya geluti 20 tahun ini.

Kembali ke mahasiswa-mahasiswa yang saya tanyakan masa depannya itu, banyak mereka yang mengatakan bahwa dosen mengajari mereka untuk tidak perlu menjadi programmer untuk bisa menjadi System Analyst. Benarkah demikian? Ini jelas pertanyaan yang sesungguhnya  saya juga tidak bisa memastikan jawabannya tapi mari kita telaah sama-sama.

Setiap orang diciptakan Tuhan dengan kemampuan yang berbeda-beda, saking berbeda-bedanya tidak ada orang yang mampu menjadi superman untuk dapat melakukan semua pekerjaan. Termasuk di antaranya dunia IT. Setiap tantangan dan ide bisnis yang muncul dari industri IT sangatlah tidak mungkin ditangani oleh satu orang. Oleh sebab itu, solusi terbaik untuk dapat memecahkan kebutuhan market place, industri dan konsumen IT adalah bekerja dalam tim dimana System Analyst berperan penting menyatukan semua elemen itu agar dapat menyelesaikan problem dan tantangan.

Menjadi System Analyst dalam sebuah perusahaan memang tidak membutuhkan skill programming yang hebat tapi ketidakpunyaan pengetahuan programming akan membuat pekerjaan seorang System Analyst akan menjadi pincang. Seorang System Analyst tidak hanya dituntut untuk mementingkan hasil (Result Oriented) melainkan ikut serta dalam mengawasi proses pengerjaannya. Dengan demikian tugas seorang System Analyst harus benar-benar menguasai sisi Tehnikal dan Non Tehnikal dari sebuah solusi yang sedang dikembangkan.

TO BE CONTINUED…
Saya butuh feedback dari anda untuk melanjutkan artikel ini..

20 thoughts on “Menjadi System Analyst. Antara harapan dan tantangan

  1. System Analisis tdk selamanya dituntut mengerti programing tp alangkah baiknya kalau punya pengalaman ttg code. Hal terpenting adalah menguasi strategi bisnis proses & bisa mengakomodir masalah yg ada.

  2. Bisa saja SA tidak terlalu mengerti sisi pemrograman. Ia dengan cekatan mengumpulkan pendapat dari tim programmernya, kemudian menyatukannya. Tetapi hal tersebut akan sangat tidak efisien, karena ia akan lebih banyak belajar dari bawahannya ketimbang mengarahkan tim. Lebih parah lagi, nantinya dia malah membuat angan-angan impossible dan menjanjikan hal impossible, antara requirements (jumlah UI, Data Processing dan reporting yang harus dibuat) dengan resources (waktu + tenaga programmer = budget) tidak sebanding. Lebih parah lagi, ketika deadline tidak tepenuhi, SA abal abal tersebut cenderung menyalahkan atau menyerahkan seluruh tanggung jawab ke programmer.

    Menurut saya, SA wajib memiliki wawasan dan skill di bidang IT dan Business Rules sistem yang ditanganinya. Jika SA tidak memiliki pemahaman Business Rules, maka ia dan tim yang dipimpinnya akan terhambat pada poin tersebut, atau bisa jadi software output dari project tersebut akan tidak efisien, atau malah unusable.

  3. System analyst ya sebelumnya bukan programmer malah biasanya jadi trouble maker, hasil analisa g make sense dengan teknologi yg dipake sehingga programmer ttp harus mlakukan analisa ulang, pa lagi analyst nya fresh grade beuh runyam….

  4. yang saya rasakan selama menjadi system analis, seorang sistem analys haruslah mempunyai skill lain selain dasar pemograman, paling tidak algoritmanya lah, sehingga ketika membaca program, minimal ngerti arah darinprogram tersebut, ya minimal juga bisa ngedot dikit lah 🙂

    skill tersebut biasanya lebih kepada skill manajerial seperti manajemen konflik, sampai dengan skill komunikasi, karena pada dasarnya system analys layaknya seorang arsitek yang menjamin bahwa bangunan yang akan dikerjakan sesuai dengan permintaan yang punya rumah

    dan pengalaman tersebut saya rasakan pada saat masa studi selama kuliah, sekitar 3 tahun yang lalu

    satu lagi… minta pengalamannya selama 20 tahun pak 🙂 , diceritakan di tulisan lain, atau saya yang belum Searcy ng ua.. hehehe.. 🙂

  5. Menurut saya untuk jadi System Analyst harus pernah jadi programmer dulu sebelumnya. Karena tugas sistem analis adalah untuk “mengkomputerkan” sesuatu yang belum “terkomputerkan”. Cara mengkomputerkan adalah dengan menulis program. Apa jadinya kalau sistem analis tidak pernah menulis program? Orang bisa jadi komposer pasti pernah memainkan alat musik sebelumnya, agar bisa mengkomposisikan alat-alat musik dengan serasi.

  6. Seandainya ada pilihan komen pakai disqus,hehehe

    Saya kurang setuju kalau seorang sistem analys harus benar-benar menguasai sisi Tehnikal. Ditempat saya bekerja sekarang analys hanya merancang bagian luarnya saja. Sebut saja projek yang sedang saya kerjakan sekarang. Kebetulan saya programmer API. pihak analys hanya menjelaskan flow program yang harus saya kerjakan serta requirementnya. Pihak analis hanya tau di bahasa ini ada fitur ‘ini’ ‘itu’ lalu minta saya mengerjakan tanpa dia tau lebih dalam.

    Seperti kemarin dia tau kalau perform Golang lebih baik dari pada python. Lalu dia meminta bagian API untuk melakukan research dan bechmarking. Jadi pihak analys gak perlu belajar Golang terlalu dalam, biarkan programmer yang melakukannya

    • Setuju untuk Faizal. Dari pengalaman saya, seorang yang bikin dokumen requirement itu jauh lebih sulit daripada menulis kode. pertama dia harus mengerti bagaimana kode itu nantinya akan dibuat dan dia harus pastikan bahwa itu pasti bisa dibuat dan kedua bagaimana caranya dia menyusun dokumen yang bisa dimengerti programmer. Yang Point 1, Membayangkan sesuatu yang nantinya dibuat dan pasti bisa dibuat itu pasti bukan berasal dari pemikiran seorang yang nggak pernah berurusan dengan hal itu. Meskipun yang sekarang coverage-nya lebih besar, tapi saya yakin dia pernah bikin dalam coverage yang lebih kecil.

      • “kedua bagaimana caranya dia menyusun dokumen yang bisa dimengerti programmer” = Fakta dilapangan hampir rata – rata SA yang tidak berangkat dari programmer tidak bisa membuat document yang bisa dipahamin oleh programmernya, alhasil Big Bos always said? Kenapa Lama progressnya bla bla bla ke programmer, etc. Itu yang saya rasakan. Sebaiknya SA berangkat dari programmer, agar mereka paham bagaimana kerja seorang programmer.

        Punya SA yang tidak mengerti masalah programmernya + QA yang taunya cuma tester bug, LENGKAP sudah dunia programmer ini, lol.

    • Ditunggu kelanjutannya Om Peter.

      Setuju dengan mas faisal, saya yang masih awam banget di dunia IT melihat kalau tiap2 programer punya metode yg berbeda2 pula dalam penyelesaian pembuatan sistem. Sistem analis yg harus memikirkan alur sistem yang baik dan benar sehingga bisa dimengerti oleh pihak programernya. Kalau sistem analis mempelajari semua metode pemrograman sampai dalam mungkin akan memakan waktu lama. Dengan mengerti alur program yg dibuat oleh programer mungkin sudah cukup.

      #discuss

Leave a Comment